Webkos.co.id.Jakarta – Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026 (Jumat waktu Jakarta). Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.
Selain faktor ekonomi, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik, terutama peluang tercapainya gencatan senjata di kawasan Timur Tengah.
Mengacu pada laporan CNBC, harga emas spot turun sekitar 2,7% ke level USD 4.384,38 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup melemah 3,9% ke posisi USD 4.376,30 per ounce.
Penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa tekanan pada emas dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga dan inflasi yang masih tinggi.
Ia menambahkan, jika konflik geopolitik terus berlanjut, harga emas berpotensi turun di bawah USD 4.000. Namun, apabila tercapai gencatan senjata dan ada harapan penurunan suku bunga, harga emas bisa kembali naik mendekati USD 5.000.
Sebagai aset lindung nilai, emas biasanya diminati saat ketidakpastian meningkat. Namun, ketika suku bunga naik, daya tarik emas cenderung menurun karena investor lebih memilih instrumen dengan imbal hasil.
Di sisi lain, harga minyak yang meningkat akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah turut memperburuk tekanan inflasi global.
Seorang pejabat senior Iran menyebut proposal Amerika Serikat untuk menghentikan konflik yang sudah berlangsung hampir empat minggu sebagai langkah sepihak dan tidak adil.
Iran Izinkan Kapal Tanker Lewat Selat Hormuz, Sinyal Positif Negosiasi
Dalam perkembangan lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik dalam proses negosiasi.
Sejak konflik antara AS dan Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari, harga emas telah terkoreksi hingga 17%.
Analis dari Intesa Sanpaolo menilai bahwa pergerakan spekulatif dalam beberapa waktu terakhir telah mengurangi efektivitas emas dan perak sebagai aset safe-haven, terutama dalam jangka pendek. Kebutuhan likuiditas di awal konflik juga mendorong aksi jual pada kedua logam tersebut.
Data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa klaim tunjangan pengangguran di AS sedikit meningkat, namun pasar tenaga kerja masih tergolong stabil. Kondisi ini memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga sambil terus memantau risiko inflasi akibat konflik.
Untuk logam lainnya, harga perak spot turun 5% menjadi USD 67,71 per ounce, platinum melemah 4,2% ke USD 1.839,67, dan paladium turun 5% ke USD 1.352,82.
Sempat Menguat, Harga Emas Terdorong Sentimen Penurunan Minyak
Sebelumnya, pada Rabu, harga emas sempat mengalami kenaikan setelah harga minyak turun dan meredakan kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan. Sentimen ini juga dipengaruhi kabar bahwa Amerika Serikat tengah menyiapkan proposal untuk menghentikan konflik di Timur Tengah.
Harga emas spot tercatat naik hampir 2% menjadi USD 4.558,81 per ounce. Sementara kontrak berjangka emas pengiriman April melonjak lebih dari 3% ke USD 4.552,30 per ounce.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengungkapkan bahwa negaranya tengah menjalin komunikasi dengan Iran dan melihat adanya sinyal positif menuju kesepakatan damai, meski hal ini dibantah oleh pihak Iran.
Dalam pernyataannya di Oval Office, Trump mengatakan bahwa ia menahan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena adanya proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Iran Bantah Negosiasi Langsung, Tegaskan Sikap Tegas
Meski ada klaim dari pihak AS, Iran secara tegas membantah adanya negosiasi langsung. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menyatakan bahwa negaranya tidak akan membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa Iran tetap konsisten dengan sikapnya dan tidak akan mengubah pendirian tersebut.
Namun demikian, Iran tetap membuka akses bagi kapal-kapal non-hostile untuk melintasi Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak global. Kapal dari negara yang tidak terlibat konflik dan mematuhi aturan keamanan diperbolehkan melintas dengan aman.
Sebelumnya, ketegangan di Selat Hormuz sempat menyebabkan lonjakan harga energi selama hampir satu bulan sejak konflik dimulai.
Namun pada Rabu pagi, harga minyak justru mengalami penurunan. Minyak mentah Brent turun sekitar 5% ke USD 99,13 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 4% ke USD 88,42 per barel.






