Webkos.co..id,Jakarta – Harga emas dunia mengalami penurunan tajam di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi yang seharusnya mendorong kenaikan aset safe haven justru berbalik arah, membuat banyak investor terkejut.
Berdasarkan laporan terbaru, harga emas sempat jatuh hingga ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir, bahkan turun lebih dari 20 persen dari puncaknya di awal tahun 2026.
Emas Kehilangan Daya Tarik Safe Haven?
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat terjadi konflik geopolitik. Namun dalam perang AS–Israel melawan Iran kali ini, pola tersebut tidak sepenuhnya berlaku.
Di awal konflik pada akhir Februari 2026, harga emas memang sempat melonjak tajam hingga menembus level tinggi di atas USD 5.300 per ons.
Namun, tren tersebut tidak bertahan lama. Seiring berjalannya konflik, harga emas justru berbalik turun drastis. Bahkan, dalam beberapa sesi perdagangan, harga emas anjlok lebih dari 8 persen sebelum akhirnya sedikit pulih.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah emas mulai kehilangan statusnya sebagai aset aman?
Kenaikan Suku Bunga Jadi Biang Kerok
Analis menyebut, penyebab utama anjloknya harga emas bukan semata karena konflik, melainkan ekspektasi kenaikan suku bunga global.
Perang di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi, terutama minyak, yang kemudian memicu kekhawatiran inflasi tinggi.
Akibatnya, bank sentral seperti Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga. Kondisi ini membuat emas—yang tidak memberikan imbal hasil—menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen lain.
Selain itu, penguatan dolar AS juga menekan harga emas di pasar global.
Volatilitas Pasar Meningkat Tajam
Konflik antara AS, Israel, dan Iran juga berdampak besar pada pasar komoditas secara keseluruhan. Harga minyak sempat melonjak akibat ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Namun di sisi lain, emas justru mengalami tekanan karena investor beralih ke aset lain atau melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan sebelumnya.
Kondisi ini menciptakan volatilitas tinggi di pasar global, tidak hanya pada emas tetapi juga pada perak, saham, dan obligasi.
Apakah Harga Emas Akan Naik Lagi?
Meski saat ini mengalami penurunan, sejumlah analis menilai harga emas masih berpotensi naik kembali jika konflik semakin meluas atau ketidakpastian global meningkat.
Namun, dalam jangka pendek, arah harga emas masih sangat bergantung pada kebijakan suku bunga dan pergerakan dolar AS.
Jika inflasi tetap tinggi dan suku bunga tidak turun, tekanan terhadap emas diperkirakan akan terus berlanjut.
Kesimpulan
Penurunan harga emas di tengah perang AS & Israel melawan Iran menunjukkan bahwa dinamika pasar global semakin kompleks.
Tidak lagi hanya faktor geopolitik, tetapi juga kebijakan moneter dan kondisi ekonomi makro yang menjadi penentu utama pergerakan harga emas.
Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat bahwa bahkan aset safe haven sekalipun tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi.






