Webkos.co.id,Jakarta – Harga emas global mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis. Pelemahan ini dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta kenaikan harga minyak dunia, yang terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan bahwa serangan terhadap Iran masih akan terus berlangsung.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi, sekaligus memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Mengacu pada laporan CNBC, harga emas spot anjlok sekitar 3,6% ke posisi USD 4.587,55 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Sementara itu, kontrak berjangka emas di AS turun 2,7% menjadi USD 4.679,70.
Kenaikan nilai dolar AS turut memberikan tekanan tambahan bagi emas, karena membuat harga logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menyebutkan bahwa pelaku pasar saat ini sangat mencermati pernyataan Trump.
Ia menilai belum ada indikasi penyelesaian cepat terhadap konflik energi yang sedang berlangsung, sehingga sentimen pasar cenderung menekan harga emas dan perak. Kondisi ini juga memperkecil peluang adanya pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Pernyataan Trump Picu Lonjakan Minyak
Dalam pidatonya, Trump mengungkapkan bahwa militer AS hampir mencapai target operasinya di Iran. Namun, ia tidak memberikan kepastian terkait kapan konflik yang telah berlangsung selama satu bulan itu akan berakhir.
Bahkan, ia menegaskan komitmennya untuk terus menekan Iran secara agresif. Pernyataan ini memicu kenaikan harga minyak global.
Lonjakan harga energi tersebut berpotensi mendorong inflasi lebih luas, sehingga membuat bank sentral semakin berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung menurun saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari, harga emas tercatat telah merosot sekitar 13%.
Cadangan Emas Turki dan Permintaan Asia Jadi Sorotan
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari kabar penurunan cadangan emas milik bank sentral Turki.
Dalam laporan terbaru, cadangan emas Turki berkurang sekitar 69,1 metrik ton menjadi 702,5 ton dalam sepekan terakhir. Bahkan, dalam dua minggu terakhir, total penurunannya mencapai lebih dari 118 ton, seiring langkah pemerintah meredam dampak gejolak pasar akibat konflik.
Di kawasan Asia, tren permintaan menunjukkan variasi. Di India, emas mulai diperdagangkan dengan premi untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, dipicu oleh turunnya harga yang meningkatkan minat beli.
Sebaliknya, di China, premi emas justru sedikit melemah karena pelaku pasar masih menunggu peluang penurunan harga yang lebih dalam.
Secara keseluruhan, pergerakan harga emas saat ini masih sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik serta arah kebijakan suku bunga ke depan.






