Webkos.co.id,Jakarta – Harga minyak global mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta), setelah muncul sinyal dari Gedung Putih terkait kemungkinan dilanjutkannya dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengacu laporan CNBC, harga minyak mentah Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Mei merosot hampir 8 persen dan ditutup di level USD 91,28 per barel. Sementara itu, minyak acuan internasional jenis Brent untuk pengiriman Juni juga terkoreksi lebih dari 4 persen ke posisi USD 94,79 per barel.
Pemerintahan Donald Trump disebut tengah membuka peluang untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran, meskipun jadwal resmi belum diumumkan. Seorang pejabat Gedung Putih menyampaikan hal tersebut kepada media pada Selasa.
Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa keputusan kini berada di pihak Iran, terutama setelah perundingan yang berlangsung di Islamabad tidak membuahkan hasil pada akhir pekan lalu.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menawarkan sejumlah opsi, sehingga langkah selanjutnya bergantung pada respons Teheran.
Situasi semakin memanas setelah Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menekan Iran agar bersedia memberikan konsesi dalam negosiasi.
Blokade tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak Iran melalui Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia. Data terbaru menunjukkan ekspor Iran melalui jalur ini mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari pada bulan sebelumnya.
Analis dari Commonwealth Bank of Australia menilai bahwa langkah tersebut dapat memperketat pasokan minyak fisik sekaligus produk turunannya di pasar global.
Proyeksi Permintaan Minyak Melemah
Selain faktor geopolitik, prospek permintaan minyak juga diperkirakan mengalami tekanan. International Energy Agency memperkirakan bahwa gangguan pasokan akibat konflik Iran akan berdampak pada konsumsi energi dunia.
Lembaga tersebut memprediksi permintaan minyak global akan turun hingga 1,5 juta barel per hari pada kuartal kedua tahun ini. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak masa pandemi COVID-19.
Untuk keseluruhan tahun, konsumsi minyak diproyeksikan menyusut sekitar 80.000 barel per hari. Angka ini berbanding terbalik dengan estimasi sebelumnya yang justru memperkirakan pertumbuhan permintaan mencapai 640.000 barel per hari.






