Webkos.co.id,Jakarta – Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai menimbulkan efek domino terhadap perekonomian global. Salah satu dampak paling terasa adalah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, seiring terganggunya distribusi energi dunia.
Mengutip laporan Anadolu Agency, Sabtu (28/3/2026), sejumlah SPBU di Inggris sempat mengalami keterbatasan pasokan pada Jumat. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga energi global serta meningkatnya permintaan di tengah ketidakpastian pasokan.
Situasi semakin memburuk setelah jalur vital perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz, mengalami gangguan signifikan. Jalur tersebut merupakan titik krusial distribusi minyak dan gas, sehingga hambatan di kawasan ini langsung menekan suplai global.
Di Inggris, harga bensin kini telah menembus angka lebih dari 1,5 poundsterling per liter atau sekitar USD 7,25 per galon. Angka ini melonjak sekitar 15 persen dibandingkan sebelum konflik terjadi. Sementara itu, harga solar juga ikut merangkak naik hingga mencapai 1,77 poundsterling per liter.
CEO jaringan ritel besar Asda, Allan Leighton, mengungkapkan bahwa sebagian kecil SPBU miliknya mengalami kendala pasokan sementara. Ia menyebut permintaan yang meningkat tajam menjadi faktor utama.
Menurutnya, lonjakan konsumsi telah melampaui kemampuan pasokan yang tersedia. Meski begitu, ia memastikan kondisi tersebut bersifat sementara, walaupun gangguan distribusi kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Di kawasan Uni Eropa, data dari IRU menunjukkan rata-rata harga diesel telah mencapai 2,12 euro per liter per 26 Maret, atau meningkat sekitar 29 persen sejak konflik dimulai.
Pemerintah di beberapa negara Eropa pun mulai mengambil langkah untuk menahan laju kenaikan harga, seperti memberikan bantuan ke sektor transportasi dan memastikan distribusi tetap berjalan. Negara seperti Kroasia, Hungaria, Slovakia, dan Slovenia bahkan menerapkan pembatasan harga sementara. Selain itu, pemangkasan pajak bahan bakar juga dilakukan di beberapa negara, termasuk Italia dan Portugal.
Dampak Global: Asia hingga Amerika Latin
Kenaikan harga energi tidak hanya terjadi di Eropa. Di China, harga diesel kembali mengalami peningkatan pada pekan ini. Meski pemerintah telah membatasi kenaikan harga, angka saat ini tetap tercatat sekitar 25 persen lebih tinggi dibanding awal konflik.
Di Brasil, harga solar naik lebih dari 20 persen, sementara di Turki bahkan mencapai kenaikan sekitar 30 persen.
Filipina juga mengalami lonjakan signifikan. Pemerintah setempat melaporkan harga bensin naik antara 8 hingga 12 peso per liter. Untuk RON 97, harga kini berada di kisaran 112,40 peso per liter dari sebelumnya 87,69 peso. Jenis RON 95 dan RON 91 juga mengalami kenaikan tajam.
Sementara itu, harga solar di Filipina meningkat hingga 15–18 peso per liter, dengan kisaran harga terbaru mencapai lebih dari 100 peso per liter, tergantung jenisnya.
Di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan, Mesir turut menaikkan harga bahan bakar antara 15 hingga 22 persen sejak 10 Maret 2026. Pemerintah bahkan menerapkan kebijakan penghematan energi, termasuk membatasi jam operasional pusat perbelanjaan dan mengurangi penerangan jalan.
Pakistan juga mengambil langkah serupa dengan menaikkan harga bensin dan solar sekitar 55 rupe per liter setelah sebelumnya menahan kenaikan menjelang Lebaran.
Harga Minyak Dunia Ikut Melonjak
Sebelumnya, harga minyak global sempat melonjak tajam hingga mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada 27 Maret 2026. Kenaikan ini dipicu kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan.
Harga minyak mentah AS tercatat naik 5,46 persen menjadi sekitar USD 99,64 per barel, bahkan sempat menyentuh angka USD 100,04. Sementara itu, minyak Brent juga meningkat hingga USD 112,57 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Presiden AS Donald Trump sempat memberikan perpanjangan waktu 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali akses di Selat Hormuz. Ia juga menyatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April.
Meski demikian, situasi di lapangan masih belum stabil. Beberapa kapal tanker, termasuk milik perusahaan pelayaran China, dilaporkan gagal melintasi Selat Hormuz, menandakan kondisi jalur tersebut masih rawan.
Pasar Energi Masih Rentan
Perkembangan di Selat Hormuz terus menjadi perhatian utama pasar energi global. Jalur ini merupakan salah satu arteri terpenting dalam distribusi minyak dunia.
Walaupun sebagian pengiriman masih bisa berlangsung, para analis menilai kondisi pasar saat ini semakin rapuh. Kepala analis Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, menyebut ketahanan pasar yang sebelumnya terbentuk kini mulai melemah.
Ia menjelaskan bahwa cadangan minyak global yang sempat menjadi penyangga mulai menipis, sehingga pasar lebih rentan terhadap gangguan baru.
Diperkirakan sekitar 17,8 juta barel minyak per hari yang biasanya melintas di Selat Hormuz kini terdampak. Secara total, hampir 500 juta barel pasokan minyak dan cairan energi lainnya telah terganggu sejak konflik berlangsung.






